7
komentar

April 14, 2012

Mengapa harus MERAH ?


Mulai awal tahun 90-an, Mie Ayam telah menjadi makanan populer di Jawa, dan Indonesia, menyusul Bakso yang sudah populer sebelumnya. Makanan ini cukup mudah ditemui dan seringkali dijual satu paket dengan bakso. Di mana ada penjual mie ayam, biasanya juga menjual bakso, demikian juga sebaliknya. Selain paket jualan yang sama itu, bumbu lain yang tersedia di hadapan pembeli ketika menyantap mie ayam dan bakso adalah sambal cabai mentah, kecap manis dan saus pedas. Ketiga bumbu itu, selalu ada menemani alat makan yang juga standard yaitu sendok-garpu serta sumpit. (dulu sebelum ada mie ayam, hanya ada sendok bebek dan garpu). Display dan penyajian ini, umum penulis temui di warung mie ayam bakso pinggir jalan di Jakarta dan Yogya.


Bila dicermati, pada umumnya, cara pembeli  dalam memperlakukan kecap dan saus cukup seragam. Mereka biasanya tidak merasakan terlebih dahulu mie ayam atau bakso yang dihidangkan, namun langsung MENCAMPUR SAUS dan KECAP dalam ukuran yang banyak ke dalam mangkup mie ayam atau bakso. Penambahan SAUS atau KECAP tidak didasarkan pada kebutuhan bahwa rasa mie ayam atau bakso tersebut kurang manis (sehingga ditambah kecap manis) atau kurang pedas (sehingga ditambah SAUS atau sambal). Mungkin yang ingin dicapai adalah penambahan warna HITAM atau MERAH atau campuran warna HITAM MERAH dalam kuah mie ayam atau baksonya. Oleh karena itu, sangat menarik mencermati penikmat mie ayam atau bakso, atau mie rebus di angkringan yang dengan serta merta mencampurkan SAUS dan KECAP dengan takaran yang MAKSIMAL ke dalam kuah makanan. 


TANYA KENAPA ? Mungkin, sekali lagi ini mungkin, sudah kebiasaan, sehingga tidak mantab bila makan mie ayam tidak serta merta mencampurkan SAUS dan KECAP ke dalam mie ayam dan bakso. Mungkin juga memang suka merah dan suka pedas sehingga mencampurkan SAUS semaksimal mungkin ke dalam kuah. Mungkin juga ikut-ikutan dan tidak sadar bahwa sebenarnya ada cara lain menikmati mie ayam dan bakso tanpa SAUS dan KECAP. Mungkin saja, pengamatan saya ini hanya bagi konsumen di kalangan warung tenda, karena saya sendiri juga penikmat warung tenda selera rakyat, yang  mungkin saja berbeda dengan cara makan di restoran mewah ? Atau, semangat gak mau rugi, memasukkan segala yang bisa dimasukkan ke dalam kuah...hehehe. Atau malah, Mungkin saja tidak relevan ditanyakan, Bagaimana dengan ANDA ?

Sumber gambar :SINI  SITU SINI LAGI
2
komentar

September 08, 2011

Saya tidak punya waktu bicara tentang Tuhan

Kutipan di atas adalah pernyataan Choan Seng Song yang saya dapatkan dari Dosen baru saya ketika kuliah Teolog-teolog Asia. Pernyataan tersebut cukup keras karena berusaha menempatkan pembicaraan tentang Tuhan dalam suasana ketergesaan, dalam situasi bahwa Tuhan harus dibicarakan secara "cekak aos", secara "concise". Pernyataan tersebut juga menampakkan suatu luapan semangat dalam nuansa kemarahan dengan nada ejekan ketika berhadapan dengan orang yang dengan mudah dan sering berbicara tentang Tuhan. Bagi Song, pembicaraan tentang Tuhan ditantang oleh kemendesakan situasi di hadapannya yang tidak bisa menunggu untuk tidak disapa. Situasi Asia yang khas di setiap tempat membuat setiap pembicaraan tentang Tuhan mengambil jatah waktu/kesempatan untuk berbicara tentang situasi aktual di hadapan setiap orang di Asia ketika mulai berbicara tentang Tuhan. Situasi macam apakah yang dihadapi oleh Teologi Asia secara umum ?


 Ada beberapa hal yang bisa disebut, secara umum tentu saja. Asia dengan keragaman budaya, keragaman agama menampakan juga kesamaan persoalan meliputi kesamaan bekas jajahan Barat atau pernah merasakan sebagai bagian dari gerak kolonialisasi barat dengan aksesnya yaitu situasi kehancuran pasca perang. Situasi Post Kolonial itu membentuk kehidupan yang khas sesuai dengan negara yang menjajahnya, entah Inggris, Belanda, maupun Portugis. Suasana lain yang sama adalah suasana kemiskinan yang menandai sebagian besar wilayah Asia, dengan perkecualian negara Asia yang jauh dari perkara kemiskinan seperti Jepang.

Beberapa hal di atas memberikan gambaran uniknya suasana Asia. Kesadaran akan keunikan tersebut dilanjutkan dengan munculnya kemendesakan yang tidak bisa diabaikan berhadapan dengan persoalan di depan mata setiap orang yang ingin berteologi khas Asia. Suasana kemendesakan tersebut meminta untuk selalu ditanggapi daripada sibuk berbicara tentang Tuhan.

Di Indonesia, yang juga Asia ini, kemendesakan apakah yang menuntun seorang Teolog untuk tidak terlalu lama dan berbicara tentang Tuhan yang abstrak-jauh, namun terus maju dan menanggapi persoalan yang hadir-hidup di hadapannya ? Pertanyaan ini sungguh menggelitik saya sampai saat ini. Indonesia dengan keragaman budaya dan agama sungguh mencerminkan suasana Asia yang dijadikan locus teologicus bagi teologi Song. Secara lebih konkret, manusia Indonesia dengan persolan hidup macam apakah yang mendesak untuk segera disapa sebagai suatu rumah teologi yang nyata ?

  (masih akan berlanjut) 

Gambar CS Song dikutip dari : http://www.cssong.org/home.html

Gambar Indonesia dikutip dari : http://2.bp.blogspot.com/_7_Y-9u_dgfM/TODZ8k5RYLI/AAAAAAAAAHA/pnyEiXiZuUA/s1600/kemiskinan-masal-bajaj-anak-nalumsari-jepara-jawa-tengah.jpg
 

Copyright © 2010 mahatmaberkata-kata | Premium Blogger Templates & Photography Logos | PSD Design by Amuki