"Zaman saya dulu tidak ada photo pre-wedding mas, hanya orang-orang kaya yang buat foto kayak gitu !"
Ungkapan tadi terucap dari tetangga rumah Mas Bram, fotografer yang memotret salah seorang teman yang akan menikah.
Minggu lalu, teman lama saya minta tolong dipinjami vespa untuk
pre-wedding. Mengingat vespa saya tidak
eye-catching, saya pinjamkan vespa teman satu asrama yang lebih tua dan terawat. Saya mengantar vespa sekaligus ingin melihat proses pemotretan.
***
Foto sebelum pernikahan menjadi semakin umum dilakukan oleh pasangan yang akan menikah. Foto tersebut biasanya akan digunakan antara lain di dalam undangan pernikahan, dicetak besar dan ditempatkan di tempat resepsi pernikahan, serta dibuat
slideshow untuk diputar pada waktu pernikahan.
Seingat saya, kebiasaan foto sebelum pernikahan ini mulai marak setelah tahun 2000, terutama dengan semakin berkembangnya teknologi fotografi. Alat pengambil gambar yang semakin canggih membuat semakin banyak orang menggunakan foto untuk berbagai kegiatan sebelum menikah.
Ada banyak tanggapan terhadap munculnya budaya baru ini. Di jajaran yang menganggap miring
pre-wedding ada yang mengatakan bahwa
pre-wedding itu haram. Ada pula yang mengatakan bahwa
pre-wedding itu mahal. Selain itu, ada yang mengatakan bahwa
pre-wedding itu tidak lebih penting daripada menjalankan pernikahannya sendiri.
Selain pendapat di atas, ada juga yang mengatakan bahwa
pre-wedding itu penting karena menggambarkan kemesraan pasangan, menjadi moment yang istimewa, demi keren pernikahan, agar ada kenangan bagi anak-cucu.
Saya sendiri termasuk orang yang tidak anti
pre-wedding. Bila alasannya mahal, sekarang banyak jasa
pre-wedding yang tidak mahal, namun hasilnya bagus. Kita bisa juga mencari orang di sekitar kita (kakak, adik, sepupu, tetangga, ponakan ) untuk memotret dengan harga yang tidak mahal. Tentu harga mahal atau tidak tergantung nama fotografer serta kualitas yang dijaminkan. Saya sendiri punya pendapat lain tentang kebiasaan ini.
Saya bayangkan bahwa foto
pre-wedding akan lebih
fresh dan menampakkan ungkapan kasih satu sama lain daripada pada saat pernikahan. Bayangan saya, saat menikah, pasangan suami-istri sudah lelah dengan "tetek bengek" upacara dan pesta sehingga wajah dalam foto tidak akan lebih segar daripada
pre-wedding.
Foto
pre-wedding dapat juga dijadikan sebagai gambaran akan harapan menjalankan hidup berumahtangga; Harapan bahwa walaupun mengetahui kekurangan pasangan saya, saya tetap berkomitmen untuk hidup bahagia dan membangun kebahagiaan bersama dengan pasangan saya itu. Foto tersebut bisa dipasang dan dijadikan pajangan saat sudah menikah; dijadikan pengingat apabila mengalami persoalan yang dihadapi. Mungkin terkesan klise, namun semakin banyak mengingat saat-saat bahagia dalam relasi bersama, akan membuat pikiran terhadap pasangan akan menjadi lebih positif.
Pengandaian saya ini tentu didasarkan bahwa mereka yang akan menikah tentu saja sudah saling mengenal satu sama lain sehingga
pre-wedding bukan hanya menjadi gambaran ideal khayal bahwa pernikahan itu akan bahagia setiap hari seperti di dalam foto, namun suatu komitmen untuk mewujudkan kebahagiaan itu bersama. Oleh karena itu, keberhasilan pernikahan dapat dilihat ketika pernikahan sudah berumur lebih dari 30 tahun dan satu sama lain masih terus berkomitmen hidup bersama dan mewujudkan kebahagiaan seperti nampak dalam foto
pre-wedding.
Akhirnya,
pre-wedding akan mendapat makna ketika
post-wedding dan menjalankan komitmen bersama sampai akhir. ***