2

Ulang Tahun : Apanya yang diulang ?


6 hari setelah tanggal 2 Juli 2009. Masih teringat jelas ucapan selamat ulang tahun dari orangtua, saudara dan teman. Masih ingat ucapan yang tertulis di social network. Banyak yang mengungkapkan dengan ucapan selamat ulang tahun dengan "met ultah ya !", "selamat ulang tahun ya !", "sugeng tanggap warsa ", "hepi b'day", dan ada yang mengucapkan "met hari manuk (birth = bird = manuk)".

Dalam ngiang-ngiang ucapan dan hingar bingar tersebut, muncul pertanyaan, dari ucapan yang muncul, mana yang paling mengesan ? Aku paling terkesan dengan pernyataan happy birthday ! Selamat Hari Kelahiran. Yang diperingati adalah hari kelahiran. Dalam bahasa gaulnya, selamat hari manuk. Aku jadi heran, mengapa dalam bahasa Indonesia, ungkapan tersebut hilang dan menjadi selamat ulang tahun. Apanya yang diulang ? Mengulang tahun yang sama ? tentu aku tidak mau. Mengulang kembali kembali hidup yang sama setiap tahun ? Darimana muncul kata selamat ulang tahun ? Semangat repetisi, kiranya, mewarnai ungkapan itu. Tahun yang diulang-ulang menandakan ada suatu kehidupan yang dirayakan. Perayaan kehidupan adalah pengulangan dari suatu siklus yang ditandai dengan tahun.

Di jawa, pengulangan tersebut, tidak terbatas pada tahun, tetapi juga selapan artinya 35 hari. Setiap 35 hari, terjadi siklus yang sama dan hal itu diperingati sebagai hari kelahiran juga. Jadi, bila digunakan dalam konteks bahasa Indonesia, perayaan selapan akan berbunyi " Selamat Ulang Bulan !". Logika ini dapat dilanjutkan dengan perayaan per minggu dengan ucapan "Selamat Ulang Minggu ! ", dll.

Pencarian akan asal mula ini, berkelindan dengan tradisi yang mengikutinya. Belum usai aku mencari asal mula ucapan "selamat ulang tahun", muncul tradisi perayaan yang mengikutinya. Ada apa di balik perayaan ? Apakah berarti manusia suka dengan adegan, atau kegiatan perayaan ? Perayaan menandakan ada sesuatu yang penting dalam hidup manusia. Untuk memperlihatkan pentingnya suatu peristiwa, dibuatlah perayaan. Dengan kata lain, perayaan adalah usaha manusia mengawetkan peristiwa yang dianggapnya penting dalam hidup. Lebih jauh lagi, dalam dasar hatinya, manusia menginginkan kekekalan ! Darimana kesimpulan ini ? Apakah terlalu jauh ?

Manusia merayakan kelahiran, kematian, pernikahan, sunatan, keberhasilan memperoleh sesuatu. Perayaan mengambil kata "raya" sebagai dasarnya, yang artinya besar. Merayakan bisa diartikan memuliakan, memperingati, atau juga "memperbesar". Apa yang dibersarkan atau dibesar-besarkan ? Bukankah perayaan kemudian mengandung arti membesar-besarkan sesuatu. Bila harus dibesar-besarkan (dengan perayaan) bukankah sebelumnya berarti belum besar ? Manusia membesar-besarkan peristiwa dalam hidupnya, yang dianggap penting. Mengapa manusia menganggap peristiwa kelahiran sebagai hal yang penting dan bahkan dalam tradisi indonesia (kelihatan dari ungkapan selamat ulang tahun), peristiwa tersebut perlu diulang-ulang ? Mungkin agar ingat bahwa kelahiran adalah hal yang penting ! Ulanglah hal yang penting agar ingat ! Pertanyaan selanjutnya tentunya berbunyi, mengapa kelahiran penting ? Di mana pentingnya ?

Rabaanku, manusia mengganggap kelahiran sebagai sesuatu yang penting karena kelahiran menjaga eksistensi spesies manusia sebagai manusia. Tanpa kelahiran, tentu spesies manusia hanya akan menunggu kematian. Kelahiran merupakan potensi atau harapan munculnya kelanjutan. Manusia ingin dilanjutkan sebagai manusia. Kelahiran manusia baru adalah harapan bahwa kemanusiaan dapat dilanjutkan, ilmu pengetahuan, budaya dan segala macam pencapaian manusia dapat dilanjutkan. Itulah mengapa manusia dalam lubuk hatinya menginginkan kekekalan.

Perayaan, pembesaran, dan pengulangan atas peristiwa kelahiran dalam siklus tahunan adalah suatu usaha manusiawi yang meminta manusia ingat akan salah satu tugasnya sebagai manusia yaitu melanjutkan kemanusiaan.
Selamat belajar menjadi manusia !!

gambar dicomot dari : http://www.zingerbug.com/
1

Komunitas : Sarana atau Tujuan ?

Baru saja seorang kawan berucap,"mas, aku gak menemukan apa yang kubayangkan dalam komunitas ini. Bayanganku, aku akan menemukan banyak penulis-penulis jempolan. Ternyata tidak."
Ungkapan tersebut segera membawaku pada pengalaman memasuki berbagai macam komunitas, apapun itu bentuknya. Mudahnya adalah melihat semua itu sebagai suatu harapan dan kenyataan. Kedewasaan manusia diukur dari seberapa tinggi derajat kelenturan melihat realitas yang tidak selamanya sesuai dengan harapan. Bahkan, secara ekstrem dikatakan oleh Albert Camus bahwa kekecewaan bersumberkan harapan. Bila tak mau kecewa, janganlah berharap. Padahal harapan adalah sumber kekuatan dalam kehidupan seseorang.

Kembali ke komentar di atas. Tidak semata dapat dimasuki dengan nasehat klise semacam itu. AKu tergerak untuk melihat kembali komunitas dan tujuanya. Dalam cara pandang yang selalu mencari tujuan dalam tiap kegiatan, aku menyimpulkan bahwa setiap komunitas perlu memiliki tujuan bersama yang dipahami oleh setiap anggota. Adanya tujuan bersama yang diamini oleh setiap orang akan membawa kelanjutan atau eksistensi dari suatu kelompok. Hal ini sudah dibuktikan oleh komunitas yang disebut negara.

Ketidaktahuan akan tujuan dapat membuat orang kehilangan semangat dan hilangnya harapan. Tujuan suatu kelompok itu membawa perubahan dalam tiap anggota. Apakah komunitas itu menjadi tujuan pada dirinya sendiri atau menjadi sarana demi suatu tujuan lain ? Aku melihat contoh Komunitas Blogger Bengawan sebagai contoh. Kelihatannya, Komunitas bukan hanya menjadi sarana, tetapi juga menjadi tujuan. Artinya, tiap anggota merasakan perlunya kehadiran anggota yang lain, sekedar hadir menjadi teman untuk menjalin relasi dalam komunitas itu sendiri. Sampai batas itu, Komunitas Bengawan menjadi tujuan bagi orang-orang kesepian yang kesulitan mencari teman.

Di sisi lain, dapat juga komunitas menjadi sarana bagi tujuan tertentu. Sebagai sarana, komunitas bukanlah hal yang dituju. Misalnya Blogger Bengawan adalah sarana bagi blogger untuk bertemu, berbagi info, dll. Dalam prakteknya, kelompok yang menjadi tujuan bagi berdirinya, berpeluang untuk menghasilkan kebosanan dalam diri anggota karena tidak menghasilkan apapun sebagai kelompok. Di sisi lain, kelompok semacam ini dapat memberikan kehangatan dalam tempo yang relatif lebih cepat.

Teman yang sharing di awal tulisan ini, pastilah memiliki gambaran dan harapan tentang komunitas baru yang ia masuki. Gambaran tersebut seringkali tak terungkap. Anggota lain dalam kelompoknya, bisa jadi memiliki gambaran yang lain lagi tentang kelompok itu. Menurutku, perlu dilihat kembali, untuk apa suatu komunitas itu didirikan. Dengan merujuk kembali ke semangat asli, tujuan dapat dijadikan pedoman dan semangat.

Di sini, nampak satu perdebatan tentang perlunya pemimpin dalam suatu kelompok atau tidak. Menurut saya, pemimpin itu diperlukan, hanya saja perannya tidak mutlak. Artinya, sistemlah yang bekerja. Ganti pemimpin, sistem terus bekerja. Pemimpin berperan sebagai pengawal tujuan besar dari pendiri. Pemimpin yang terlalu dominan malah menghasilkan suatu kelompok yang sulit untuk stabil sebagai kelomppok. Dengan kata lain, sisi kharisma pemimpin dapat memperkecil porsi kerja sistem. Pergantian pemimpin tidak merubah segalanya. Pemimpin perlu tetapi tidak segalanya. Bila terpaksa, sistem yang lebih bekerja.

Kembali ke pertanyaan tentang komunitas sebagai sarana atau tujuan, saya berpendapat bahwa komunitas itu keduanya, baik sebagai Tujuan bagi dirinya sendiri atau juga menjadi sarana bagi tercapainya tujuan lain.
gambar diculik dari : http://penjurian.blog.telkomspeedy.com/2009/01/13/